Kisah 2 Manusia



kisah, dua manusia, manusia, anak adam, impian , tulisan, cerpen, memo, catatan, tulisan abstrak, anjing, mumet, pusing, lomba cerpen

Kisah 2 Manusia


Diceritakan pada tiga tahun setelah lengsernya Pak RT dari jabatannya, ada dua orang ini yang lantas muncul untuk membuat siapa saja yang melihatnya ingin sekali menceritakan lagi tingkah polahnya kepada orang lain atau ke pada Sanak saudaranya. Mereka begitu memberikan warna tersendiri bagi lukisan kehidupan pada saat itu. Warna yang terang dan mencolok di banding dengan warna yang lain. Cenderung “mendominasi” dan terlihat tidak serasi dengan warna yang sudah ada di lukisan itu.

Pada suatu kampung, di tengah masyarakat modern yang super Kritis. Setelah selesainya masa jabatan RT di kampung itu, mereka mencoba memunculkan diri sebagai sosok pengganti.
Bagus memang, namun apakah mereka memiliki Kredibilitas di bidang tersebut?, Bersedia mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran mereka untuk masyarakat kampung itu?, Menjadi wadah yang luas seperti Samudera pada saat tertentu?, Dan menjadi tegas, Setegas berdirinya batu karang di lautan pada saat yang bersamaan namun, dengan kontekstual yang berbeda?.

Atau malah menjadi Mandor yang dengan tongkat kekuasaanya bebas melakukan apa saja, kepada siapa saja, dengan kesadaran meng “upah” mereka, sehingga pekerjaan menjadi beres?, Tanpa takut tangan kotor dan sepatu menjadi penuh lumpur.

Luar biasa mereka ini. Dengan penuh percaya diri mencoba memunculkan diri di tengah masyarakat dan ingin berbuat sesuatu kepada lingkungan desa itu. Pujianku kepada mereka. Salut!.
Dengan resiko yang bisa mengoyak harga diri mereka kapanpun tanpa aba-aba.

Sedikit saja yang tidak kenal dengan mereka. Mayoritas masyarakat desa itu sudah paham dan mengerti maksud “kemunculan” mereka berdua. Ada pro dan kontra. Seperti air dan minyak. Tidak bisa bersatu, walaupun di aduk dengan cara apapun, yang malah jika dipaksakan di aduk, akan memecah mereka berdua. Menghasilkan senyawa yang akan menjadi racun bagi lingkungan.

Mendapat perhatian dari pemimpin adalah suatu kebanggan buat rakyat. Terlebih bila sampai di beri Reward dari mereka, akibat dari kesungguhan dan Totalitas baktinya. Berharap dapat uang saku,
uang bensin, dan uang-uang lainnya sudah menjadi barang Lumrah ku kira.

Jika Mereka berdua memimpin, Ada anggapan bahwa, mereka akan bersifat Feodal dalam menjalankan pemerintahan desa itu. Pendapat dari salahsatu warga yang Kontra. Jelas berbeda suara dengan yang Pro. Namun, jika di lihat dari histori kepemimpinan mereka di desa ataupun lingkungan tersebut, memang demikian. Tanpa Tedeng aling-aling Seorang sesepuh desa itu sendiri yang mengatakannya.

Mandek di tengah jalannya kekuasan sebelum waktu habisnya masa jabatan adalah cermin dari sikap Pengecut.” Celetuk salah seorang warga. Yang lain hanya diam. Diam karena menyadari kebenarannya. Warga pro maupun kontra sepakat akan hal itu. “Wis to yo, ojo di permasalahke masalah sing biyen, sing uis ya uis.” tukas Pak RT yang akan habis masa jabatannya kepada para warga.

Tak di pungkiri memang, Kedua figur yang “Muncul” kembali ini adalah datang dari Keluarga ternama dan terpandang di desa itu. Dengan jumlah kekayaan yang hampir mengalahkan keluarga yang lain, Rumah-rumah yang tinggi menjulang di tengah desa bak gedung pencakar langit adalah milik Keluarga itu. Yang memungkinkan tingkat pengaruh yang tinggi kepada masyarakat. Secara logika, salah satu anggota keluarga dari “dua” orang ini, dengan mudahnya mempropagandakan atau mempromosikan anggota keluargnya si “kedua” oran ini tentunya.

Hal tu bukan rahasia umum di desa itu. Para anak muda yang Kritis dan Netral juga mengetahuinya.
Mereka sangat mengerti, Karena pernah menjadi korban dari kekuasan mereka “berdua” itu, Dulu.

Bayangkan saja, Anak muda yang harusnya di berikan kewenangan untuk mengurus suatu kegiatan yang memang sifatnya sesuai dengan umur mereka, dan momennya memang mengharuskan begitu, malah di anggap seperti “Robot” yang harus melayangi tuannnya, si “dua” ini. Mereka di buat tak berkutik. Bagai rampok yang tertangkap dan akan di adili masa.

Awalnya di puji setinggi langit di hadapan seluruh warga dan pengurus desa yang lain, di berikan janji untuk bebas melakukan apapun pada kegiatan itu. Tentu dengan koridor akal sehat. Yang membuat anak muda yang polos hatinya menjadi semangat dan jelas bekerja keras utuk kelancaran acara tersebut.

Di gembesi pada saat akan di mulainya acara. Seluruh naskah susuna acara dan lainnya di ambil alih dan di ganti dengan rumusan mereka “berdua” ini. Harus!. Itu kata mereka ”berdua”. Sontak mereka para anak muda merasa di hianati akal sehatnya, meras di rampas kebebasannya, merasa di injak harga dirinya. Tak berlebihan kataku, memang begitu seharusnya.

Kecewa yang mereka dapatkan dari “kejadian” itu. Mereka para anak muda terpaksa menjadi robot demi kelangsungan acara penting itu. Namun, selepas itu, mereka membubarkan diri dengan suka rela, karena kesadaran terhadap Realitas yang ada.

Kita tunggu saja, Jika mereka terpilih akan seperti apa jadi desa ini” kata salah satu warga.
Bertingkah seperti Raja yang berkuasa selama ratusan tahun dan memiliki tanah jajahan yang luas, sehingga berbuat seenaknya adalah kesalahan fatal dalam demokrasi, terutama pada tingkat desa dalam hal ini. Membuat wangi “nama” keluarga sendiri dalam kemimpinan adalah cara yang tidak bisa di benarkan. Mengepentingkan urusan “keluarga” dari pada kepentingan Rakyat desa secara menyeluruh adalah tindakan konyol.

Kau hidup di dunia sebagai pemimpin, yang berarti “Pelayan” rakyat, bukan “Penguasa” rakyat.

Comments