Memo Untuk-Nya



Allah SWT, islam, iman, tauhid, tasawuf, heneng, hening, manunggal, kawula, gusti, maiyah, akik, tua, jadul, cak nun

Memo Untuk-Nya

Pernahkah kau merasa sepi di tengah keramaian?. Pernahkah kau merasa asing di tengah kebersamaan?. Atau pernahkah kau merasa seperti berbeda dari yang lainnya?.

Pernah. Itu jawaban ku. Keadan ku sekarang, dimana ke tiga hal di atas sedang menggerayangi kehidupanku. Mengganggu Nalar dalam pikiran Positifku. Meresahkan hati yang berusaha berdamai dengan Semseta. Mengusik Nurani untuk berontak. Namun, Berontak kepada siapa?, Apakah dengan berontak itu aku akan menjadi lebih baik? Setidaknya menghilangkan beberapa masalah di atas walaupun hanya sejenak, mungkin dalam hitungan jam?.

Itu tidak mungkin ku lakukan. Tegas aku nyatakan, itu tidak mungkin. Kehendak Tuhan menjadikan hamba-Nya begini. Entah aku memaknainya sebagai Ujian atau memang Karma. Terlepas dari masa lalu yang sangat mengecewakan. Pendapatku, Saat tuhan melihat tingkah polahku saat waktu itu. Merasa di biarkan begitu lama, sehingga seluruh hal yang ku anggap positif seakan tidak ada manfaat kepada diriku sendiri. Ini permainan macam apa Tuhan?. Memaki-Mu adalah hal yang sering aku luapkan. Tapi, Memohon ampun kepada-Mu juga tak jarang aku lakukan.

Seperti sesuatu yang tenggelam di air yang dalam. Mengambang di dalam airnya. Tidak di permukaan, juga tidak di dasarnya. Persis di tengah-tengah. Terseret arus kesana dan ke mari. Menabarak karang sesekali. Termakan ikan dan di muntahkan lagi. Tak tentu arah, tanpa tujuan. Hampa!. Mencari arti dari Ketidakabadian. Takan ku bisa jelaskan betapapun lamanya aku Belajar dari berbagai situasi dan kondisi. Sekalipun belajar kepada orang yang paling Alim dan saleh.

Menyedihkan. Terkadang memang itu ungkapan rasa yang pas aku utarakan. Terkutuk. Nuraniku juga sering berteriak demikian. Namun apa?, Kenapa?. Jika aku mengutuk Tuhanku Sendiri, lantas apa? Apa yang aku dapatkan dari Mengutuk Zat yang Menciptakan semesta ini berikut aku di dalam-Nya?. Tuhan mungkin Hanya tersenyum dan Berkata “Manusia yang satu ini, sangat suka aku bermain-main dengannya.” Maha Suci Engkau Tuhan-Ku. Kau bukan hanya boleh mempermainkanku Seperti anak kecil yang melemparkan Bola kepada anjing, lantas sang anjing menggigit dan mengembalikannya bola itu kembali kepada sang anak yang melemparkannya tadi.

Aku bersedia menjadi Anjing, Tuhan. Bersedia ratusan bahkan ribuan kali menangkap dan mengembalikannya lagi bola yang Engkau lempar kepadaku. Aku siap engkau panggil kapanpun Engaku mau. Aku selalu menyerahkan tubuhku untuk Kau remas, Kau kecup, bahkan Kau Tendang sekalipun.
`
Tuhan, aku hanya meminta Jalan itu. Hal dan apapun yang bisa aku capai untuk kesana. Karena di sana lah aku melihat cahaya. Cahaya yang akan selalu Mententramkan hati dan jiwa ku. Aku merasa butuh akan Cahaya itu. Aku merasa sangat ingin Bersama Cahaya itu dalam mengarungi Puzzle Kehidupan yang sengaja Engkau berikan kepadaku untukku Menyelesaikannya tanpa kesalahan sedikitpun.

Tuhan. Beribu ampun aku katakan kepadamu dengan nada lirih dan hati yang meangis haru. Pada setiap kali aku teringat akan hal itu. Teringat Karena Kau belum sudi untuk aku meraihnya. Sedikitpun aku akan Bersyukur Tuhan. Walau sedikit cahaya yang akan ku dapat dan tidak abadi aku sangat Berterimakasih Tuhan. Karena sesungguhnya Keabadian adalah Engakau sendiri, dan Cahaya itu pula adalah Kau.

Tuhan, Seraya aku mencari dan terus berusaha menggapainya, Tolong engkau Tunjuki aku ke Teguhan mental dan Rohani. Tanpa menimbang Relitas dan Relevansinya semoga aku tetap Istiqomah mencarinya.

Allahuakbar.

Comments