Memo Untuk-Nya
Memo
Untuk-Nya
Pernahkah
kau merasa sepi di tengah keramaian?. Pernahkah kau merasa asing di
tengah kebersamaan?. Atau pernahkah kau merasa seperti berbeda dari
yang lainnya?.
Pernah.
Itu jawaban ku. Keadan ku sekarang, dimana ke tiga hal di atas sedang
menggerayangi kehidupanku. Mengganggu Nalar dalam pikiran Positifku.
Meresahkan hati yang berusaha berdamai dengan Semseta.
Mengusik Nurani untuk berontak. Namun, Berontak kepada siapa?, Apakah
dengan berontak itu aku akan menjadi lebih baik? Setidaknya
menghilangkan beberapa masalah di atas walaupun hanya sejenak,
mungkin dalam hitungan jam?.
Itu
tidak mungkin ku lakukan. Tegas aku nyatakan, itu tidak mungkin.
Kehendak Tuhan menjadikan hamba-Nya begini. Entah aku memaknainya
sebagai Ujian atau
memang Karma. Terlepas
dari masa lalu yang sangat mengecewakan. Pendapatku, Saat tuhan
melihat tingkah polahku saat waktu itu. Merasa
di biarkan begitu lama, sehingga seluruh hal yang ku anggap positif
seakan tidak ada manfaat kepada diriku sendiri. Ini permainan macam
apa Tuhan?. Memaki-Mu adalah hal yang sering aku luapkan. Tapi,
Memohon ampun
kepada-Mu juga tak jarang aku lakukan.
Seperti
sesuatu yang tenggelam di air yang dalam. Mengambang di dalam airnya.
Tidak di permukaan, juga tidak di dasarnya. Persis di tengah-tengah.
Terseret arus kesana dan ke mari.
Menabarak karang sesekali. Termakan ikan dan di muntahkan lagi. Tak
tentu arah, tanpa tujuan. Hampa!. Mencari arti dari Ketidakabadian.
Takan ku bisa jelaskan betapapun lamanya aku Belajar dari berbagai
situasi dan kondisi. Sekalipun belajar kepada orang yang paling Alim
dan saleh.
Menyedihkan.
Terkadang memang itu ungkapan rasa yang pas aku utarakan. Terkutuk.
Nuraniku juga sering berteriak demikian. Namun apa?, Kenapa?. Jika
aku mengutuk Tuhanku Sendiri, lantas apa? Apa yang aku dapatkan dari
Mengutuk Zat yang Menciptakan semesta ini berikut aku di dalam-Nya?.
Tuhan mungkin Hanya tersenyum dan Berkata “Manusia yang satu ini,
sangat suka aku bermain-main dengannya.” Maha Suci Engkau Tuhan-Ku.
Kau bukan hanya boleh mempermainkanku Seperti anak kecil yang
melemparkan Bola kepada anjing, lantas sang anjing menggigit dan
mengembalikannya bola itu kembali kepada sang anak yang
melemparkannya tadi.
Aku
bersedia menjadi Anjing, Tuhan. Bersedia ratusan bahkan ribuan kali
menangkap dan mengembalikannya lagi bola yang Engkau lempar
kepadaku. Aku siap engkau panggil kapanpun Engaku mau. Aku selalu
menyerahkan tubuhku untuk Kau remas, Kau kecup, bahkan Kau Tendang
sekalipun.
`
Tuhan,
aku hanya meminta Jalan itu. Hal dan apapun yang bisa aku capai untuk
kesana. Karena di sana lah aku melihat cahaya. Cahaya yang
akan selalu Mententramkan hati dan jiwa ku. Aku merasa butuh akan
Cahaya itu. Aku merasa sangat ingin Bersama Cahaya itu dalam
mengarungi Puzzle Kehidupan yang sengaja Engkau berikan
kepadaku untukku Menyelesaikannya tanpa kesalahan sedikitpun.
Tuhan.
Beribu ampun aku katakan kepadamu dengan nada lirih dan hati yang
meangis haru. Pada setiap kali aku teringat akan hal itu. Teringat
Karena Kau belum sudi
untuk aku meraihnya. Sedikitpun aku akan Bersyukur Tuhan. Walau
sedikit cahaya yang
akan ku dapat dan tidak abadi aku sangat Berterimakasih Tuhan. Karena
sesungguhnya Keabadian adalah Engakau sendiri,
dan Cahaya itu pula
adalah Kau.
Tuhan,
Seraya aku mencari dan terus berusaha menggapainya, Tolong engkau
Tunjuki aku ke Teguhan mental dan Rohani. Tanpa
menimbang Relitas dan Relevansinya semoga aku tetap Istiqomah
mencarinya.
Allahuakbar.

Comments
Post a Comment