00.06
00.06
Hari
yang membosankan untuk kesekian kalinya. Menghadapi berbagai hal yang
sama dan berulang. Membuat penat dan pening kepala. Untuk libur
panjang ini, beda. Tidak seperti masa-masa libur kemarin. Yang kita
bebas kemanapun tanpa takut akan segala kemungkinan. Ini berbeda
karena sedikit-sedikit kita di semprot seperti kuman yang menjijikan,
dan di wajibkan memakai masker layaknya ninja di siang bolong.
Pengap!.
Sungguh
ku rasa kesia-sian belaka libur panjang ini. Tak dapat kulakukan
segala sesuatu sebebas biasanya. Habis satu botol sabun cuci tangan
setiap hari, dan tangan seperti melar akibat sebentar-sebentar
dicuci. Boros!. Tak ada subsidi untuk hal ini, yang di wajibkan dan
tersurat resmi dari sang penguasa.
Untuk
aku yang serba pas-pasan, dan mereka yang serba kekurangan.
Pembatasan dalam mencari nafkah, beribadah, dan bersosialisasi ini
menyebabkan kami bergundah hati dan perlahan sekarat lalu mati dalam
kenistaan yang berangsur abadi.
***
Tuhan
kiranya Engkau sudah jenuh dengan kami, yang tak pernah mengerti akan
segala kekeliruan yang kami lakukan berulang dan tanpa sedikitpun
merasakannya, maaf. “pembangunan” yang mengatasnamakan
Kesejahteraan untuk semua,
nyatanya hanya bualan, dan hanya di nikmati oleh suatu golongan
tertentu dan kelompok. Mereka
telah menghianati kami dan mencampakkan kami ke jurang yang terdalam
dan asing itu. Gelap, itu yang kami rasakan Tuhan, kami tidak bisa
meraba apa yang menjadi wujud yang nyata dan aktual dalam proses
pembangunan kesejahteraan itu oleh sekelompok orang tadi. Kami juga
tidak dapat mencium bau kejujuran dalam selimut pembangungan yang
mereka janjikan dengan sejuta aroma wangi yang mereka sengaja
taburkan, untuk supaya kami mengamini tindakan mereka dan ikut serta
menjadi “partisipan” mereka.
Sungguh
kebodohan yang kami lakukan itu Tuhan. Kami akhirnya menyadari bahwa
kami tak lebih dari hewan ternak yang
di gembala oleh mereka di padang rumput nan subur dan hijau, lalu
masuk ke kandang dan di beri nutrisi tambahan, agar kami sehat dan
cepat gemuk supaya mereka dapat menjual kami ke “mereka” yang
menjadi boss sekaligus tengkulak yang menerima kami sebagai hewan
jualan. Kami di lempar kesana dan kemari untuk memenuhi kebutuhan
mereka, kebutuhan akan kekuasaan dan proses peggendutan perut mereka
yang terlalu sering merasa lapar. Sebagai pelampiasan nafsu birahi
dan nafsu keserakahan mereka. Kami menderita tuhan. Kami menjadi
wayang yang tak berdaya.
***
Jaman
dimana alam merasa muak dengan makhluk yang bernama manusia.
Munafik dan rakus, pembantaian,
dan pembalakan segala yang ada di alam. Tanpa merasa diri mereka itu
sebagai makhluk yang numpang.
Mereka membabi buta dalam segala. Makan dan buang air, lalu merusak
dan merusak. Terus seperti itu. Buah dari itu mereka merasa berhak
akan sesuatu yang lebih tinggi sehingga mereka berhak pula menguasai
sesamanya. Genosida besar-besaran atas nama keadilan dan purifikasi
dari sebuah keimanan tertentu menjadi merebak di segala penjuru.
Memakan bangkai saudaranya tanpa rasa puas menjadi hal lumrah di
kemudian hari. Atas nama tuhan, keadilan, dan kepentingan tertentu,
mereka mengembangkan sikap rakus yang menjadi-jadi dan sudah akut,
menjadi penyakit semua keturunannya. Keturunan merka yang menjadi
korban dan mereka yang melakukan kejahatan itu, pasti akan merasa
curiga dan merasa harus balas dendam, dan menjadi sesuatu yang tak
ada akhirnya dan takan berkesudahan sampai Sang Pencipta sendiri yang
menjadi wasit dan menghentikan semuanya. Permainan itu, Pentas itu,
dan menutup panggung.
***
Itulah
aku, kau dan kita semua. Semua kita sama, memiliki sifat angkara
murka di dalam diri masing-masing. Yang sering menjadi pengontrol dan
pengendali utama hidup kita. Yang pada akhirnya di titik tertentu,
kita baru menyadari semuanya, setelah terjadi keruskan, dan penyakit.
Kita bersedih dan merenung. Kenapa bisa seperti itu? Kenapa kita
sekejam itu?. Pada akhirnya penyesalanlah yang akan kita hadapi. Dia
akan menertawakan dan menghina diri kita yang memang layak dan harus
di hina dan di tertawakan. Kita bodoh dan tak mengerti susatu apapun
selain dari Ia yang Maha Memiliki yang meminjamkan informasi itu
kepada kita. Yang kita telah teledor dan menyianyiakannya. Tapi
tuhan, mengapa engkau menciptakan kami yang berbuat kerusakan ini ke
bumi yang indah nan asri ini? Apakah Engkau tega melihat keruskan dan
ketidak indahan yang kami perbuat terhadapnya?. Atau kau memang sudah
megerti akan terjadi demikan, namun engkau sengaja
mau menguji dari setiap kami
yang tetap teguh memeganng kata-kata suci-Mu. Dan
melakukan darma budhi ke sesama?. Kejahatan yang kami lakukan apakah
menjadi penyeimbang dari sifat-Mu yang maha Baik dan suci lalu
mengandung semua unsur Positif, ya nampaknya kau menghendaki
Keseimbangan dalam dinamika kehidupan ini Tuhan.

Comments
Post a Comment