April

April




april, cerita april, bulan april, cerpen april, narasi april, fiersa besari, cak nun, gus mus, gus dur, sujiwo tejo, tulisan, artikel, memoar, abstrak, amburadul



Sedang duduk saja, ada dua teman yang sedang sibuk masing-masing dengan gadgetnya. Saling tuduh dan menyalahkan, tak jaranng pula tertawa lepas seperti anak kecil yang bebas bermain kesana kemari. Ada dua kucing juga yang tertidur pulas. Satu kucing berwarna dominan hitam ada corak tipis kuning asam pulas tertidur dengan gaya bebas terlentang dan agak condong ke kanan kearah tembok sebagai tempat bersandar agar kuat dan seimbang mempertahankan gaya tidurnya.

Dan kucing yang satunya tertidur namun agak kurang pulas, karena baru aku pindahkan dari posisi tidurnya semula yang ngleendot malas di dekat kaki kiriku. Sekarang pindah posisi melingkar. Warna dominan putih dan dua corak tegas menonjol kuning, dan hitam. Lama-lama terlihat seperti klereng susu dengan posisi melingkarnya itu. Berusaha terlelap kembali.



***



Setelah selesai ku tulis tentang dua kucing ini, tiba-tiba datang temanku yang satunya lagi. Segera ikut nimbrung dengan ku dan dua kawanku yang lama menemaniku. Di rumahku yang tampak seperti “gubug” diantara rumah-rumah loteng dua tingkat dan berlapis tembok yang gagah. Duduk nglemprak di lantai di bawah ku yang duduk di kursi. Langsung sibuk dengan game dan gawainya mengikuti dua temanku yang sudah “in game”. Datang karena panggilan kurang pemain dalam game yang sedang di mainkan temanku. Temanku yang satu ini lantas keluar dari rumahnya bergegas pergi kerumahku dengan berlari kecil seperti anak kecil yang tanpa beban cicilan sana sini hehehehe.....



***



Amunisi rokok yang semula tinggal dua batang, otomatis langsung terisi penuh karena temanku yang baru datang ini membawa sebungkus rokok filter berlogo gudang berwarna merah.

Kopi cuma tiga gelas termasuk punyaku. Temanku yang baru datang merelakan jatah kopinya karena telat datang dan kebetulan air panas di termos sudah dingin. Apa boleh buat, dia juga oke maklum. Prosesi “join”pun di lakukan dengan amat segera.



***



Aku merasa bosan sekaligus heran, dengan kondisiku sekarang ini. Sengaja begadang sembari menunggu waktu sahur dan mengecas Smartphone ku. Aku tiba-tiba ingin menulis. Menulis abstrak dan tak penting. Entahlah, intinya ingin menulis. Aku sudah terlalu bosan dengan tulisan bertema, yang mengharuskanku menggali informasi yang valid dan dapat di pertanggung jawabkan dari topik utama yang melatar belakanginya. Data yang akurat jelas di perlukan, berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan.



Kebosananku ada di dua point, pertama internet sedang lemot karena wifi di rumah sedang mati karena musim paceklik yang sedang terjadi, terpakasa aku menstop terlebih dahulu anggaran untuk koneksi wifi dan mengalihkannya ke kebutuhan pokok sehari-hari yang menjadikanku menggunakan data seluler dari smartphone dengan koneksi seadanya.

Kedua, tekanan yang terjadi karena terlalu lama dirumah karena di luar sedang banyak wabah. Wabah yang menyerang manusia dengan amat menyedihkan. Semua di liburkan, kegiatan kumpul-kumpul di setop, pedagang di ancam dan tak boleh berjualan. Pasar sepi pembeli orang-orang sibuk isolasi diri pemerintah di buat bekerja ekstra keras dan frustasi. Stress!!.



***



Maaf jika tulisan ini membuang waktu kalian. Dan tak ada kesan setelah membacanya, karena aku sadar sedang menulis tulisan sampah hehehe...

kondisiku mungkin sedang berada di level stress tertinggiku dalam hidup ketika menulis ini. Aku hanya ingin bermain bermain bersamamu, kalian. Dalam kecemasan dan kegundahan yang dahsyat. Mari aku temani kau dalam kegilaan yang ssedang menggerogoti kita semua. Jangan merasa hanya kamu yang sedang begitu. Akupun sama, mereka di luar sana pun tak ada beda. Sama!.

Selamat malam dan mari tenggelam dalam lautan kebosanan sampai mentari terbit lalu kita lekas tidur.

Comments