Jalan Cerita

tullisan cerita, artikel kamus besar bahasa indonesia, fiersa besari, cak nun, gus mus, gus dur, sujiwo tejo, napak tilas, tulisan apa, anjing, tak tahu , lelah, tulisan malas

 
Jalan Cerita


Jika semua sudah ada tujuannya megapa harus resah?. Berlomba mencari dan memerbaiki namun yang di dapat adalah kecewa. Perjudian yang di lakukan sering kali berbuah pahit. Sering. Apa yang kita harapkan adalah apa yang kita akan temui dengan kekecewaan. Semua sudah mengerti, karena mereka yang menjalani. Sesuatu yang kita berfantasi karenanya, membayangkan hal-hal surgawi yang menenangan hati. Meredakan dahaga dari Rasa ketidakadilan terhadap diri kita. Mengapa mereka selalu lebih dari diri ini?. Bolehkah kita protes terhadap-Nya langsung dan mengharap jawaban yang tegas, sesuai akal pikiran kita?. Sesuai apa yang kita angankan sebagai jawaban. Sesuai egoisme diri kita, yang menganggap diri ini “paling” dan harus diutamakan. Rasanya tak berlebihan, bila kau yang ada diposisi ini. Kau akan melakukan hal yang sama. Bahkan lebih mengibakan dan membuat orang yang melihatmu tersayat nuraninya. Sudah seperti drama sinetron bukan?. Aneh sekali. Ibaratnya, bila ada tokoh wayang kulit yang di dalam pertunjukannya sudah di tuliskan sedemikian rupa sekenarionya oleh sang dalang. Namun ia menolak. Di saat pentas di mulai. Padahal wayang itu sendiri menyadari, dengan ia menolak sekenario sang dalang ia tak bisa berbuat apa-apa sesuai hasrat yang di kehendakinya. Karena dia hanya “Wayang” dari sang dalang.
Tak bernyawa, mati. Lusuh karena tak terpakai, terjepit oleh tokoh wayang yang lain, terinjak, tertusuk, dan bahkan tersayat, yang mengakibatkan bagian dari tubuhnya sobek. Walau setitik, itu tetap menyakitkan. Mau apa, Tak bisa. Itu adalah kalimat tanya yang sekaligus juga jawaban. Tertipu melihat “Oase” di tengah gurun pasir yang gersang. Jelas kering dan hampa. Kehampaan yang nyata. Temanmu pasir, yang hanya diam jika kau injak. Selepas itu dia kembali seperti semula, saat kau yang menginjaknya beranjak pergi. Tanpa menunjukannya padamu hai penginjak. Ia tak rela menyakiti perasaanmu yang mana akan menyulut api kemarahan, karena ke “Lelakianmu” terusik.

Kua takan temukan mata air palsu. Karena hakikat air adalah jernih. Asli. Karena ulah campur tangan, yang menjadikannya berwarna, berbau, dan keruh. Menjadikannya tempat ibadah untuk para penyakit. Sekeruh apapun dan sepalsu apapun air itu, di tumpahkan atau menggenanginya, Kembali ke Sang Hyang Widhi yang perasa. Yang menjernihkan Hati dan badaniahmu jikalau kau meminumnya. Syaratnya hanya perlu patuh atas segala kehendak-Nya. Walaupun terasa “Konyol” di saat-saat tertentu.

Sering kali memang apa yang di kehendaki takkan pernah berpihak padamu. Alam semesta ini terasa mencampakkanmu seperti binatang liar yang Najis. Tak ada salahnya memang hatimu membara dengan perlakuan-Nya itu. Justru Ia sangat menanti Amarahmu itu. Selucu itu semesta.
Naif jika kau menolak keberadaannya. Sudahlah, Akui saja keadaan ini, Akui dan jalankan Sekenario yang Ia buat untukmu. Tanpa mempedulikan rasa sakit yang ada dalam dirimu. Percaya dan yakin pada Sang Hyang Jagat.

Comments