Kompromi dan Prinsip

prinsip, kepribadian, psikologi, fisik, tulisan, curhatan, curcol, ancur, amburadul, abstrak, mencoba menulis, penulis amatir, fiersa besari, artikel, cak nun, maiyah, gus dur, gusdurian, sujiwo tejo, tai jiwo, tembang tali jiwo, au ah


Kompromi dan Prinsip


Bukan soal egoisme diri sendiri. Seiring berjalannya waktu, Kita di tuntut untuk Kompromi dalam hal apapun. Fisik yang menjadi lebih matang dan menuju kerentaan, Umur yang semakin berkurang, dan ingatan yang tak lagi Cemerlang. Mengakui terhadap sesuatu yang memang nyata terjadi, Sudah seharusnya dan tidak menjadi soal.
Takkan rendah atau berkurang derajatmu. Sama sekali. Itulah bagian dari Kompromi. Sikap kompromi yang tumbuh pada diri kita. Menghargai segala hal, Seremeh apapun hal itu. Untukmu, Kau harus Berkompromi dengannya. Punya batas rem dan gas pada setiap sisi kehidupan. Tetap menghargai, tak usah takut atau tertekan dengannya. Mereka memiliki hak yang sama denganmu.

Menyalahi kodrat yang sudah Tuhan garsikan bila kau mementingkan dirimu sendiri. Terlebih dalam mementingkan dirimu, kau menerapkan sikap Pragmatis di dalamnya. Tidak relevan dengan peradaban timur ini, Yang di dalamnya kau dituntut Sumeh terhadap segala hal. Menyadari sepenuhnya hal yang sedang terjadi dan berusaha sedikit Merendahkan derajat keegoanmu, Kukira langkah yang bijak. Kau tidak bisa “memaksa” orang lain untuk sepaham dengamu, dengan apa yang kau inginkan. Kau harus bisa belajar Tepo Sliro.

Dalam berbagai perkumpulan ataupun komunitas yang kau ikut dan ada di dalamnya, Kau tidak bisa selalu ikut dengan arus. Menjadi terbawa hanyut, tenggelam. Terkadang kau sadar, kau melihat batu besar dan kau di paksa untuk menabraknya. Karena kau tak bisa melawan arus, atau sekedar berenang menepi untuk mencapai daratan. Kau tak ada pilihan untuk tidak menabraknya. Kau sakit, luka dan hancur. Di sini lah sikap ataupun prinsip dalam hidup harus di bangun. Kau sadar dengan mengikuti arus itu kau menjadi bukan dirimu, terseret aliran arusnya yang begitu kuat, sehingga menyebabkan kau menabrak batu yang sangat besar, lalu kau sakit dan hancur. Harus ada pelajaran dari setiap kejadian dalam hidup ini. Sekecil apapun hikmah yang ada di dalamnya. Menjadi tolol jika kau tak bangkit untuk “melawan” dengan berani menolak arus itu, atau jika tak bisa di tolak kau harus siap untuk berenang menepi. Untuk segala aspek kehidupan, Harus ada sedikit Egoisme. Yang mana egoisme ini, tidak spenuhnya harus di kedepankan. Artinya hanya secukupnya saja. Dan itu menjadi identitas dirimu.

Kompromi dan prinsip, memang harus selaras dengan laju kehidupan. Tidak boleh merasa paling kuat atau paling mendominasi. Semua harus seimbang dan bermanfaat untuk sang Diri. Kompromi memang harus di terapkan, namun setelah itu harus komitmen dengan apa yang di jalani. Dalam hal apapun.
Dalam menerapkan prinsip pula kita harus menjaga komitmen. Komitmen dengan yang sudah di Sahkan oleh diri sendiri. Yang itu menjadi identitas dan keautentikan diri kita. Menjadikannya Khas dan berbeda dengan yang lain. Semua harus ada dan berjalan bersamaan.

Comments