Kompromi dan Prinsip
Kompromi dan Prinsip
Bukan
soal egoisme diri sendiri. Seiring berjalannya waktu, Kita di tuntut
untuk Kompromi dalam hal apapun. Fisik yang menjadi lebih matang dan
menuju kerentaan, Umur yang semakin berkurang, dan ingatan yang tak
lagi Cemerlang. Mengakui terhadap sesuatu yang memang nyata terjadi,
Sudah seharusnya dan tidak menjadi soal.
Takkan
rendah atau berkurang derajatmu. Sama sekali. Itulah bagian dari
Kompromi. Sikap kompromi yang
tumbuh pada diri kita. Menghargai
segala hal, Seremeh
apapun hal itu. Untukmu, Kau harus Berkompromi
dengannya. Punya batas rem dan gas pada setiap sisi kehidupan. Tetap
menghargai, tak usah takut atau tertekan dengannya. Mereka
memiliki hak yang sama denganmu.
Menyalahi
kodrat yang sudah Tuhan garsikan bila kau mementingkan dirimu
sendiri. Terlebih dalam mementingkan dirimu, kau menerapkan sikap
Pragmatis di dalamnya.
Tidak relevan dengan
peradaban timur ini,
Yang di dalamnya kau dituntut Sumeh terhadap
segala hal. Menyadari sepenuhnya hal yang sedang terjadi dan berusaha
sedikit Merendahkan derajat keegoanmu, Kukira langkah yang bijak. Kau
tidak bisa “memaksa” orang lain untuk sepaham dengamu, dengan apa
yang kau inginkan. Kau harus bisa belajar Tepo Sliro.
Dalam berbagai perkumpulan ataupun komunitas yang kau ikut dan ada di
dalamnya, Kau tidak bisa selalu ikut dengan arus. Menjadi
terbawa hanyut, tenggelam. Terkadang kau sadar, kau melihat batu
besar dan kau di paksa untuk menabraknya. Karena kau tak bisa melawan
arus, atau sekedar berenang menepi untuk mencapai daratan. Kau tak
ada pilihan untuk tidak menabraknya. Kau sakit, luka dan hancur. Di
sini lah sikap ataupun prinsip dalam hidup harus di bangun. Kau sadar
dengan mengikuti arus itu kau menjadi bukan dirimu, terseret aliran
arusnya yang begitu kuat, sehingga menyebabkan kau menabrak batu yang
sangat besar, lalu kau sakit dan hancur. Harus ada pelajaran dari
setiap kejadian dalam hidup ini. Sekecil apapun hikmah yang ada di
dalamnya. Menjadi tolol jika kau tak bangkit untuk “melawan”
dengan berani menolak arus itu, atau jika tak bisa di tolak kau harus
siap untuk berenang menepi. Untuk segala aspek kehidupan, Harus ada
sedikit Egoisme. Yang mana egoisme ini, tidak spenuhnya harus di
kedepankan. Artinya hanya secukupnya saja. Dan itu menjadi identitas
dirimu.
Kompromi dan prinsip, memang harus selaras dengan laju kehidupan.
Tidak boleh merasa paling kuat atau paling mendominasi. Semua harus
seimbang dan bermanfaat untuk sang Diri.
Kompromi memang harus di terapkan, namun setelah itu harus komitmen
dengan apa yang di jalani. Dalam hal apapun.
Dalam menerapkan prinsip pula kita harus menjaga komitmen.
Komitmen dengan yang sudah di Sahkan oleh diri sendiri. Yang itu
menjadi identitas dan keautentikan diri kita. Menjadikannya Khas dan
berbeda dengan yang lain. Semua harus ada dan berjalan bersamaan.

Comments
Post a Comment