Mawar
Mawar
Berbeda dengan bunga lain yang ada di semesta ini. Warna yang indah,
bau harum yang semerbak, dan bentuk indah nan menggoda. Salah satu
dari ciri dan familiar untuk orang awam tahu. Anggun dengan gerak
tubuh yang di sesuaikan. Pandangan tajam untuk menusuk hati makhluk
yang memandangnya. Khas berkarakter. Lugas dalam berbicara, lebih
nyaman diam, tidak mencolok.
Membuat
enggan yang akan mendekat, Rikuh. Tak perlu mempertanyakan
mengapa. Semua terlihat jelas dari gerak dan mimiknya. Mungkin ada
luka yang belum kering. Yang sakitnya membekas sekian lamanya.
Tak dapat diungkapkan, dan tak dapat dimengerti. Membingungkan,
Memang. Jika sesuatu yang ia dapat seperti yang di kehendaki, maka
akan merekah mawar itu. Merah terang merona. Namun bila
sebaliknya, Mawar itu teteap merekah, tapi putih, bersih.
Seperti bayi yang di renggut botol susu dari tangannya. Mana bisa
marah orang yang merenggut itu, Justru akan muncul seperti pancaran
yang mengusik Nuraninya. Memaksanya untuk menjatuhkan kemurnian kasih
sayang padanya. Tak berlebihan. Memang begitu adanya.
Datang
dari timur, Asli asuhan Ibu Pertiwi. Puncak dari segala ketentraman.
Dibesarkan dengan penuh rasa asuh dan asih dari sang Ibu, Meneriama
timangan dan pelukan kasih sayang yang termurni. Suapan penuh rasa
cinta untuk si mawar agar kelak tumbuh dengan lincah dan penuh
gairah yang memancarkan keceriaan. Memikat tanpa daya pikat yang di
buat. Hanya yang mengerti rasa yang
dapat merasakannya. Tak mencolok dan menonjol. Semua nampak biasa,
berjalan sesuai kehendak-Nya.
Hanya dia yang pernah
terluka yang dapat
menerka. Makna keberadaannya di bumi adalah untuk sama-sama memadukan
luka dan saling bersama, berjanji untuk
tidak membuat luka itu lagi di antara mereka. Harus dengan kejernihan
hati dan kedamaian pikiran, dan Kalbu yang membuka ruang seluasnya
utnuk ia bersemayam.
Dengan tingkah polah khas bocah yang turun dari sapian
susu ibunya. Centil tak menjengkelkan.
Siapa
yang akan mendapatkan Restu-Nya?. Untuk memiliki dan merawat mawar
ini. Menyiramnya dengan air murni ketulusan, memupuknya dengan rasa
keikhlasan, dan menjaganya dari berbagai kumbang
dan kupu yang
mencoba meneguk sari manis darinya.
Petani yang telah banyak menemui kegagalan dalam panen.
Yang selalu salah dalam menabur.
Dan yang selalu kecewa akan hasil menuainya.
Kehilangan cangkul dan kerbau karena berkhianat dan termakan waktu.
Selalu setia dalam setiap Garapannya yang
sia-sia. Yang tulus berdoa kepada Sang Hyang Jati. Iya, Dia
orangnya.

Comments
Post a Comment