Mawar

cinta, bunga mawar, wangi, puisi, puisi cinta, cerpen cinta, ungkapa cinta, dewa cinta, cinta, kasih sayang, merdeka, fiersa besari, gus dur, cak nun, sujiwo tejo, alegi, love story

Mawar

Berbeda dengan bunga lain yang ada di semesta ini. Warna yang indah, bau harum yang semerbak, dan bentuk indah nan menggoda. Salah satu dari ciri dan familiar untuk orang awam tahu. Anggun dengan gerak tubuh yang di sesuaikan. Pandangan tajam untuk menusuk hati makhluk yang memandangnya. Khas berkarakter. Lugas dalam berbicara, lebih nyaman diam, tidak mencolok.
Membuat enggan yang akan mendekat, Rikuh. Tak perlu mempertanyakan mengapa. Semua terlihat jelas dari gerak dan mimiknya. Mungkin ada luka yang belum kering. Yang sakitnya membekas sekian lamanya. Tak dapat diungkapkan, dan tak dapat dimengerti. Membingungkan, Memang. Jika sesuatu yang ia dapat seperti yang di kehendaki, maka akan merekah mawar itu. Merah terang merona. Namun bila sebaliknya, Mawar itu teteap merekah, tapi putih, bersih. Seperti bayi yang di renggut botol susu dari tangannya. Mana bisa marah orang yang merenggut itu, Justru akan muncul seperti pancaran yang mengusik Nuraninya. Memaksanya untuk menjatuhkan kemurnian kasih sayang padanya. Tak berlebihan. Memang begitu adanya.

Datang dari timur, Asli asuhan Ibu Pertiwi. Puncak dari segala ketentraman. Dibesarkan dengan penuh rasa asuh dan asih dari sang Ibu, Meneriama timangan dan pelukan kasih sayang yang termurni. Suapan penuh rasa cinta untuk si mawar agar kelak tumbuh dengan lincah dan penuh gairah yang memancarkan keceriaan. Memikat tanpa daya pikat yang di buat. Hanya yang mengerti rasa yang dapat merasakannya. Tak mencolok dan menonjol. Semua nampak biasa, berjalan sesuai kehendak-Nya. Hanya dia yang pernah terluka yang dapat menerka. Makna keberadaannya di bumi adalah untuk sama-sama memadukan luka dan saling bersama, berjanji untuk tidak membuat luka itu lagi di antara mereka. Harus dengan kejernihan hati dan kedamaian pikiran, dan Kalbu yang membuka ruang seluasnya utnuk ia bersemayam. Dengan tingkah polah khas bocah yang turun dari sapian susu ibunya. Centil tak menjengkelkan.

Siapa yang akan mendapatkan Restu-Nya?. Untuk memiliki dan merawat mawar ini. Menyiramnya dengan air murni ketulusan, memupuknya dengan rasa keikhlasan, dan menjaganya dari berbagai kumbang dan kupu yang mencoba meneguk sari manis darinya. Petani yang telah banyak menemui kegagalan dalam panen. Yang selalu salah dalam menabur. Dan yang selalu kecewa akan hasil menuainya. Kehilangan cangkul dan kerbau karena berkhianat dan termakan waktu. Selalu setia dalam setiap Garapannya yang sia-sia. Yang tulus berdoa kepada Sang Hyang Jati. Iya, Dia orangnya.

Comments