Sahabat Sendiri



Sahabat Sendiri

Pernah nggak si, loe punya Sahabat yang kesehariannya itu pemalas?, Tidur larut malem gara-gara ngege game, bangun siang tengah hari langsung main game lagi, habis itu ngurusin segala peliharaannya, Lupa sama mandi. Badan bau matahari, Rambut udah kaya keset lantai, gak pernah pake baju, Celana kolor yang di pake itu-itu aja, gue rasa emang dia ini males banget si. Males sama kehidupan mewah, males serba rapi, intinya menurut gue si dia ini emang apa adanya. Minimalis yang natural. Waktu gue sindir nggak pernah mandi pun dia Enjoy aja gitu.

Namanya Regi, Dia sahabat gue dari bayi. Rumah sebelahan persis, Sekolah gue waktu SD juga bareng sama dia. Cuma, Seperti yang gue bilang tadi, dia ini males banget. Dia nggak naik kelas pas waktu kelas 1 SD. Bayangin aja ya, Anak kelas 1 SD kan semangatnya lagi tinggi-tingginya tuh, Rasa semangat belajar, Rasa ingin tahu, Rasa seneng karena dapet temen baru, Orang tua juga pasti lagi rewel banget, karena secara anaknya kelas 1 SD, harus naik ke kelas 2, Diusahakan mati-matian supaya si anak itu rajin belajar.

Sahabat Gue ini, Si Regi. Malesnya udah dari Orok. Gue satu kelas sama dia, dan di Kelas gue, cuma si Regi ini yang gak naik kelas. Jarang berangkat, Kalo misal berangkat, pagi-pagi udah nangis aja dia, minta pulang hehehe. Ibunya selalu nungguin pas dia sekolah. Kalo udah nangis, paling susah deh kalo di bujuk. Dia mau A harus terkabul si A ini.
Guru SD otomatis gak bisa ngelarang dia pulang, al hasil selama Kelas 1 SD si Regi ini cuman Berangkat 2 Minggu wkwwk. Gila nggak tuh :D.

Waktu terus berlalu, sampai akhirnya jarak pendidikan kita hampir 4 tahun. Yang dulunya satu angkatan, sekarang udah berjarak 4 angkatan. Gue SMA dia baru masuk SMP. Si Regi ini, cuman sekolah sampe SMP doang, alesannya dia emang udah males sekolah, di tambah lagi orang tua udah gak bisa bayar buat biaya sekolah dia. Regi anak sulung dari 4 bersaudara, Laki-laki sendiri. Dari kelas 3 SD udah di tinggal kerja Ibunya keluar Negeri. Hidup sama bapaknya yang hanya buruh, dan harus menghidupi ke 4 orang anak, membuat ayahnya regi Stop membiayai sekolahnya mentok sampe lulus SMP.

Gue kenal banget dia dari kecil, Selain sifat “malasnya”, ada sifat lain yang gue suka dari dia. Apa adanya, Iya. Itu sifat dia yang paling gue suka. Dalam segala hal, dia selalu apa adanya. Nggak di buat-buat, Natural. Walaupun dia tau, dengan sifat “blak-bakannya” itu, Orang-orang akan banyak melihatnya dengan sinis. Secara dia orang yang malas bersih-bersih, bicara blak-blakan apa adanya, Orang yang baru saja mengenal, atau melihat dia berbicara, udah gue pastikan mereka akan menganggap remeh si Regi ini.

Sangat terbuka dan Friendly. Tak kenal gengsi saat bergaul, Nggak pernah “Boso” kalo ngomong dengan orang yang lebih tua. Tapi selalu apa adanya kalau ngomong. Itu menurut gue, point Positifnya sih, terlepas dari banyaknya sikap negatif yang ada. Bicara apa adanya itu penting. Buat semua hal dan kondisi, walaupun memang menyakitkan.

Suatu hari gue dan Regi terlibat obrolan santai tapi serius. Di belakang rumah gue, dengan dua gelas Kopi kapal api hitam, satu bungkus rokok signatur, dan empat potong cireng yang setengah hangat, pada sore yang gerimis dan sedikit berangin. Setelah beberapa seruputan kopi dan tiga kali hisapan rokok Regi memulai “ Loe tau nggak berita yang viral beberapa hari ini?, Tentang wabah virus yang menyebar awalnya dari china?”

Gue jawab “tau, yang sekarang ini sudah sampai indonesia, dan menjadi Pekerjaan “lemburan” buat pemerintah kita, Semua orang di desa kita dan di desa-desa yang lain pun sedang jadi buah bibir virus ini, Pemerintah juga udah menghimbau masyarkat supaya waspada, sampai-sampai UN di batalkan, Kerja di rumah, Jam malam. itu semua di terapkan demi mencegah faktor X yang katanya pemerintah dan orang banyak menjadi sumber penyebaran virus ini.”
Regi menanggapi “ Iya betul. Di sosmed juga rame tuh, banyak video yang “katanya” korban virus ini, meninggal di jalan kejang-kejang, Meninggal di Kereta dan kejang-kejang juga, pokoknya serba gitu deh, serba mendadak, dan segera di simpulkan oleh Netizen sebagai dampak dari virus ini. Menurut gue, itu gak semua benar dan gak semua salah si. Memang orang bebas ber opini apapun tapi jangan lantas mudah menyimpulkan segala sesuatunya, apa lagi sampai membenarkan opininya itu dan memaksa orang lain untuk menerima kebenaran opininya. Semua harus di lihat dari berbagai Sudut pandang.”

Gue jawab lagi “Memang begitu adanya masyarakat kita, Jangan tanya kalau di sosmed, Orang yang di lingkungan nyata hanya pendiam dan pemalu, Kalau sudah di dunia Maya, Bisa jadi orang suci, yang omongannya selalu benar, bisa jadi orang yang pandai karena merasa dirinya benar dan orang lain salah. Pokoknya bisa berputar 180 derajat dengan kehidupan aslinya di dunia ini. Kucing jadi Harimau, Pion jadi Patih.”

Percakapan berhenti sejenak, dan kami berdua kembali menikmati rokok dan kopi yang menggoda untuk di cicil kenikmatannya. Hujan bertambah deras sore itu. Namun angin lebih jinak. Setiap omongan kita, harus di tambah energinya, agar bisa terdengar satu sama lain.

Regi memulai lagi “Mbok yo jangan gitu, Gue si gak masalah sama orang yang sok-sokan di Sosmed, yang mengumbar kata-kata tajam tapi menargetkan orang lain, yang menyebar berita hoaks dengan caption yang hiperbola cenderung menghakimi, dan mendadak jadi Kritikus untuk berita yang berbau pemerintahan. Tapi untuk masalah ini, Masalah yang sama-sama kita hadapi sekarang, soal Virus ini, Udah deh.
Mending mereka nggak usah jadi tukang kompor. Dapet berita dari antahbrantah langsung di posting, dengan caption serius. Selalu mengkritik pemerintah karena kebijakannya yang di rasa “mereka” kurang berpihak ke mereka. Itu menurut gue enggak Relaistis tau nggak. Harusnya di kondisi seperti ini kita saling menguatkan, Berbagi berita yang positif, yang membangun moral temen-temen yang terjangkit khususnya dan yang belum terjangkit pada umumnya. Sama-sama kita jaga kondisi lingkungan Indonesia ini.

Gue tertegun. Berfikir dalam dengan apa yang gue denger tadi. Bukan hanya soal yang di omongkan Regi ini adalah hal yang masuk akal, dan bisa menjadi refleksi gue sendiri. Tapi, gue nggak nyangka, Regi, Temen gue, Sahabat gue, dan Saudara gue ini yang dari dulu selalu acuh terhadap segala sesuatu mendadak sekarang, di suatu sore yang basah karena di luar sedang hujan cukup lebat, dan dingin karena angin juga tak mau kalah dengan sang hujan. Dia buka suara dan Kritis terhadap kondisi yang terjadi sekarang. Opini yang gue denger tadi sungguh gue nggak nyangka keluar dari mulut Regi sendiri. Jujur ini menambah rasa terkejut gue. Gue manarik napas panjang, dan menyeruput kopi yang hampir dingin. Lantas menyalakan sebatang rokok dan menikmatinya penuh fantasi kedamaian. Regi pun ikut demikian, dia menghbiskan tetesan kopi terakhir dengan bunyi yang khas : Sruuppttt, segera air kopi itu habis dan ampas mengerumuni mulut dan kumisnya. Kita sama-sama terdiam, untuk menikmati suara hujan yang makin merdu dengan iringan angin yang mendamaikan hati. Menambah cita rasa kenikmatan duduk-duduk sore itu.
Hari menjadi terlihat lebih gelap, hujan yang awet mengisyaratkan suasana malam akan segera tiba.

loe emang bener gi, Gue juga akan njawab gitu kalo gua jadi loe. Ini memang Ironi, Disaat tim medis kita sedang berjuang mati-matian demi merawat dan menyembuhkan orang yang terkena virus ini, Kita semua “Mayoritas” malah mengolok-olok. Menentang, dan selalu mempertanyakan ini dan itu, Prosedur, kok gini, eh malah gitu. Berdebat panjang bagai Politikus yang berorasi pragmatis yang “mengatasnamakan” Rakyat bla bla bla. Di sosmed udah kayak medan perang yang ramai dengan serangan ini, dan balasan itu. Mereka saling baku hantam kata-kata dengan membawa kebenaran yang menurutnya memang yang paling relevan, tanpa tahu hal apa yang sedang mereka ributkan, tanpa mengerti hal apa yang sedang mereka omongkan. Menurut apa yang gue denger dari Pak Kiai dulu di acara pengajian sebelum virus ini, Beliau pernah berkata : “Tidak ada dosa untuk orang yang tidak mengetahui”. Tapi apakah hal itu di benarkan terus menerus? Mereka dengan ketidaktahuannya berkicau seenaknya tanpa mengerti masalah yang sebenarnya, dan dampak dari perkataannya itu. Ini sungguh juga membuat Gue pusing gi.. “ Tanggapan gue.

Huhh,. Nampaknya cahaya matari sudah lenyap sepenuhnya di sore itu. Hujan deras yang sejak tadi mengguyur pun perlahan reda dan angin juga tampaknya sudah bosan, lalu pamit undur diri.
Percakapan itu ikut berhenti juga. Menggantung. Suara Adzan tanpa Ikomah segera menderu suasana yang menandakan waktu solat Magrib tiba dan harus di tunaikan di rumah untuk sementara waktu. Memang virus ini menjadi musibah atau lebih tepatnya Teguran dari tuhan buat semua manusia, itu menurut gue si. Tapi gue juga berfikir, Masalah virus ini bener-bener serius, sehingga orang kayak Regi, mau berkomentar, dan ber opini. Yang menurut gue juga, omonganya berbobot dan relevan sesuai kondisi fakta saat ini. Itu menjadi positif buat diri gue. Gue sangat senang dengan percakapan ini.
Segera setelah adzan selesai, Regi pamit untuk mandi dan percakapan berakhir.

Comments