Dhani
D.H.A.N.I
Dia seorang teman. Sudah menjadi ayah sekarang. Dulu, tak saling kenal. Sebagai tetangga, dia cukup baik di lingkungan. Kami selisih 10 tahun. Tapi, tak membuat jarak karena itu. Justru setelah aku duapuluhan, kami makin akrab. Oke dan mudeng saat berkomunikasi, keluh kesah jadi hal yang sering aku dengar darinya. Hem..
***
Dhani namanya. Keturunan Arab, kata orang. Aku agak ragu, tapi tak terlalu menyangkal, pasalnya hidung yang mancung khas timur tengah itu. Sewaktu aku sebelasan, aku selalu di "peralat"nya. Selalu di suruh ini dan itu, aku nurut saja hehehe. Mungkin karena iming-iming duit, jika sukses menjalankan tugas darinya, menjadikanku sregep. Atau karena aku sedikit bodoh, jadi di suruh ke kanan aku ke kanan, ke kiri pun sama ke kiri juga. Heum..
***
Sekitar aku limabelasan, ia merantau ke negeri jauh, ABK atau Anak Buah Kapal. Iya, jadi ABK. Tak tahu aku dia jadi ABK kalau tak di beri tahu pak RT. Konon, ia ikut agensi kota Semarang untuk penyaluran kerjanya. Lalu kontrak dengan perusahaan China untuk jadi awak kapal. Lumayan membekas buatku, saat kepergiannya bekerja rantau. Satu satunya mata pencaharian ku otomatis hilang.
Heuhueheu…
***
Saat aku duapuluhan kurang empat bulan, aku dengar ia pulang kampung. Aku lantas mencarinya di rumahnya, dulu. Sayang, setelah aku duapuluhan, aku di sibukan dengan pendidikan dan latihan bekerja, aku tak sempat menilik seputaran lingkungan rumahku. Hem, rumah Dhani sudah di jual. Sial, ak tak tahu berita itu. Telat. Tapi, ak mendapat kabar kalau ia akan segera mengontrak di daerahku lagi, daerah kita makaudku. Seperti dulu, tapi beda rumah. Iya, dia ngontrak. Tepat di samping lebih satu rumah dari rumahku. Hehehe dekat ya.
***
Kami bertemu setelah sekian lama. Nampak biasa saja, tak ada perubahan dari fisiknya, tetap mancung. Dia yang agak heran melihatku tumbuh begitu cepat, "wis Gedhe nemen koen" sambutnya.
Yah begitulah, aku bertumbuh begitu cepat, mungkin karena aku doyan makan, namun tetap mengimbangi olahraga, kata orang, tubuhku memang bagus. Ideal.
Hehehehe….
***
Kami ngobrol lama seiring berjalannya waktu. Sekarang ia sudah menikah, untuk ke dua kali. Wkwkwk aku kaget, lantas, mana istri yang pertama?, Ternyata ia nikah saat masih jadi ABK dulu, sempat singgah lama di Merak dan kepincut oleh salah satu gadis ayu di situ hehehehe. Punya anak satu, dari hasil pernikahannya yang pertama. Tak tahulah aku kenapa ia bercerai, dan anaknya ikut si mantan istrinya itu. Sudah lah, tak penting.
Ia menikah lagi, dan sudah dapat anak satu juga. Sekarang merintis usaha jual beli burung dara.
***
Tak penting kan. Hehehe. Ceritaku memang tak penting, gaya tulisan pun aku karang sendiri, suka suka aku lah. Selamat malam.

Comments
Post a Comment