kecil yang besar

Kebahagiaan kecil yang besar 





memoar, memo, pesan, cerpen, cerita, kisah, galau, kecil, besar, cerita galau, tulisan abstrak, fiersa besari, cak nun, gus mus, gus dur, sujiwo tejo, ngawur, tulisan ngawur, artikel, artikel jadul





Awal bulan penuh berkah dan umpatan. Melihat segalanya dari sesuatu yang sama, sudut yang sama. Terlintas sesuatu yang mungkin walau sepertinya tak mungkin. Itu bagaimana? Kamu bisa memahami kata-kata saya?. Enam orang ditambah satu samadengan tujuh, lalu pergi satu lagi, tetap enam. Tak nampak Sepoi angin, langit nampak rabun, kurasa banyak Lamuk yang merebak di muka. Tiga kancil tertawa riang, sambil berjudi tanpa taruhan. Maklum pengangguran. Tiga kancil yang lain, satu sedang sibuk mengupas timun, satu melihat tekannya judi, yang terakhir sedang menulis ini.

***

Hei, hewan apakah itu. Melintas di depanku, berbulu abu loreng, berkaki empat, buntutnya bundel. "Hoooeeeii.. itu kucing, masa kamu ikutan rabun kayak langit di atas?." Sahut seseorang kepadaku, seakan dia tau isi hatiku yang kebetulan tadi itu. Ohh ternyata diriku sendiri, iya. Diriku yang berkata, diriku didalam diriku, pikiran di dalam pikiranku. Oooo kauu. 
Ada apakah gerangan "akunya aku" muncul di waktu yang remang ini?. "Hemm.. aku bosan dengan keadaan diriku, kamu eh aku Kelihatan bingung seperti raja kita dan saudara-saudara kita di kebon sebelah". 
Semuanya sedang bingung, mengambang, belum ada kepastian. Pohon, tanah, batu, buaya, anjing, semuanya. Tak seperti biasa memang, aku tak tahu harus sambat kemana dan siapa.

***

Kamu muncul di garis depan. Di hadapanku, aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku. Jelas. Jangan mengelak, "iya kan" saja omonganku. Jangan berdebat. Percuma, semua berdebat, sama keras, sama kuat, sama kepala batunya juga. Tak menyelesaikan masalah. Hemm.. kamu itu nampak mengejeku tadi pas muncul. Dalam hatimu kamu cekikikan dengan kondisiku sekarang. Keterlaluan kamu. Tapi, aku ngerti dan aku rumongso. Kamu boleh sepuas hati menertawakan ku, sampai nangispun silahkan. Monggo. Tapi, setelah kamu mencapai Klimaks dalam menertawakan ku, silahkan tanpa di suruh kamu segera lenyap dari pandanganku. Oke.

***

Kamu sudah bosan atau belum mengikuti tulisan ini? Kalu sudah, jujur saja yaa.. aku nggak mau kamu bohong. Jujur kan sebagian dari iman heuheuheu. Jangan menyoal, aku hanya memancing xixixixi..
Kamu sudah makan hari ini? Jangan lupa makan yah, tapi harus tetep di jadwal soalnya lagi bulan ramadhan, jangan mentang-mentang aku mengingatkanmu lalu kamu kesengsem wkwk lantas makan tiap waktu dan mengabariku "sudah mas..".
Selamat malam.

Comments