Situasi

Bising





Malam ini lumayan bising. Bising di sekeliling dan dalam diriku. Seperti biasa tak ada perubahan, buku-buku masih di tempatnya, teman-teman masih saling sibuk dengan gadgetnya, tanaman di pot yang sudah satu tahun aku tanam tetap segitu-gitu saja, tak nampak berubah, tak nampak berkembang.


***


Aku masih ingat sebulan lalu, aku dan kedua temanku seperjuangan, sibuk dengan proyek ini itu. Proyek yang tak penting-penting amat kalau di pikir-pikir, dan bagi orang lain. Karya tulis, mulai dari cerpen, puisi, sampai novel Prematur pun kami buat. Dikatakan prematur karena ceritanya terlalu cepat habis dan pendek, maklum, otak kami dangkal, belum ada banjir dan penggalian informasi yang memadai. Masih cethek. Tata bahasa yang berantakan, belum tau diksi, dan kawan-kawannya. Hanya yang mengganjal di pikiran dan hati kami yang saat itu membuncahlah yang kami tuangkan dalam bentuk tulisan.
Maklum.. 


***


Bekerja sambil kuliah? Istilah atau ungkapan yang aneh atau memang Mainstream buat kamu?. Itu yang sedang aku jalani. Sudah tinggal dua semester lagi, aku akan slesai, dan mengenakan toga, membuat bapak ibu bangga, tetangga makin sirik, dan entah aku bawa ilmu apa dari gelar kesarjanaan ku. Aku merasa, atau mungkin kamu juga rasakan, bahwa di semester akhir ini semangat begitu menurun, bukan hanya dari segi semangat belajar (mengerjakan tugas, absensi rajin, ikut seminar-seminar), lebih dari itu. Aku yang dari sekolah menengah kejuruan sampai kuliah mengambil mata pelajaran/keilmuan yang sama, dalam arti masih berkaitan, merasa salah jurusan di semester akhir ini. Aku takut tak bisa menambah wawasan keilmuan ku setelah kuliah ini selesai, dan aku masih biasa-biasa saja, masih seperti aku yang 3 tahun lalu hidup menjadi siswa sekolah menengah kejuruan. Tak ada perubahan berarti, hanya ilmu-ilmu kecil yang tak asing, dan familiar. 


Aku menyimpan beban, atau sedang menabur beban itu sendiri? Aku tanya kamu? Aku minta pendapatmu?. Kekhawatiran ini wajar atau tidak?. Aku tak ingin rugi dan merasa bodoh, jika selesai tak mendapat apapun yang "wah" dari studiku. Walaupun aku tahu, dapat atau tidak ilmu itu tergantung dari diri masing-masing. Tapi, pernahkah kamu bertanya pada diri sendiri: aku ingin belajar ini, belajar itu. Lalu aku belajar dan tahu, selepas itu yaudah, aku udah tahu. Bosan!.
Pernah kamu sepertiku?.


Itu, itu yang aku cemaskan. Atau, itu hanya kecemasan mahasiswa akhir yang tak beralasan?.


***


Sore itu, menjelang magrib, dan waktu berbuka puasa tiba. Aku segera mengambil gelas, lalu menuangkan air hangat dari termos dan lantas menenggaknya untuk membatalkan puasaku. Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Rasa haus yang terpuaskan, yang ada tinggal rasa lapar, setelah seharian berpuasa, wajar jika merasa lapar. Aku yang segera ke dapur dan bertanya kepada emakku masak apa hari ini mak? "Lodeh terong dan ikan asin, serta sambal terasi" jawab emakku.
Aku yang semakin tak tahan setelah mendengar jawaban emakku segera berlalu mengambil piring dan nasi. " Makk ini nasi belum masak?".
"Astaga Nang, makkmu lupa masak nasi, astaghfirullah" jawab emakku.
"Tak apa makk, aku makan bubur ketan hitam dulu, yang tadi sore aku beli di warung depan rumah" tanggaku.
"Makkmu ini sudah tua Nang, segeralah kamu cari istri…"


Hening, setelah aku dengar perkataan emakku. Aku pemuda berusia 23 tahun, aku bekerja sebagai karyawan, dan sedang kuliah semester akhir, mendadak tersentuh oleh penyataan emakku tadi. Bukan sebuah kebetulan memang, lebih dari sering emakku meminta istri untuk di jadikan teman ngobrol di rumah, bahkan lebih. 
Maklum, aku anak semata wayang. Hem….
Kamu? Pernah begitu?. 
Sungguh aku bingung dan tak bisa berkata apapun. Aku hanya diam dan kembali ke ruang tamu, makan bubur.


Aku tak ada jawaban dan penjelasan soal kata-kata "cari istri" yang emakk katakan tadi. Aku berfikir, masih banyak yang perlu aku persiapkan kan. Disamping penyelesaian studi, juga aku ingin mencari pekerjaan lain setelah sarjana. Sikap dan perilakuku pun rasanya belum siap untuk mendatangkan istri yang manis untuk ibu di rumah. 
Hem…
Walaupun kadang birahi memuncak, dan bosan dengan "sabun" di kamar mandi, tapi, inilah kenyataan. Iya ke nya ta an !.

Comments